Kamis, 23 Agustus 2012

Menjaga Sifat-sifat Manusia yang Luhur


Bismillah

Setelah selesai berbelanja dan waktu di malam H-1 lebaran mulai larut, lalu kami langsung menuju tempat parkir motor bersiap-siap untuk pulang. Kulihat motorku Honda Blade bercorak loreng orange terparkir di barisan bagian paling luar. Dan pada saat saya akan mengambil motor, sontak saya terkejut sambil mengucapkan kalimat istirja “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, de mana helm mas?” , “Mas naruh helmnya dimana tadi” sahut istri saya dengan nada agak sedikit lemas. “Ya jelas ditaruh di motor mas lah” jawab saya. “coba dicari lagi yang bener” tambah istri. Kemudian saya mencari kesana kemari, barangkali saya salah taruh helm di motor orang lain. 

Memang pada saat itu saya melihat ada seorang bapak yang memegang motornya yang diparkir di sebelah motor saya yang ditengah joknya ada sebuah helm hitam bermerk honda dan dibelakangnya ada seorang ibu muda yang menunggui, barangkali itu istrinya. Karena sangsi kalau itu helm saya, maka saya pun cuek saja dengan bapak itu. Lalu saya bertanya ke bagian penerimaan karcis kalau-kalau dia tahu, dan jika tidak setidaknya bisa bertanggung jawab. Namun jawabannya pun sama dia tak tahu-menahu dan tak mau bertanggung jawab pula. Dan saya kembali ke parkiran motor saya dengan hati yang kesal dan kecewa atas sikap pengelola parkir yang tak ada tanggung jawabnya sama sekali. Disitu saya melihat bapak yang masih menunggui motornya. Tiba-tiba ada suara yang terdengar “bapak mencari helm yah?” tanya seorang bapak dengan sopan. Langsung saya mencari suara itu, ternyata bapak yang parkir motornya disebelah motor saya. “betul pak” ujar saya sambil melihat helm yang ada di bagian tengah jok motornya. “Alhamdulillah, dari tadi kami menunggu si pemilik helm ini, jadi kami tak berani beranjak pergi” ujar bapak sambil memberi helm itu. Dan kulihat dengan teliti. Ternyata benar, itu helm saya. Saya bersyukur Alhadmulillah, lalu mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak tadi dan sambil bertanya “Sudah berapa lama bapak menunggui helm ini” tanya saya. “Tidak lama kok, hanya 20 menit saja” tutur bapak tadi yang mengenakan baju ber-jas dengan peci di kepalanya dan sarung sebagai bawahanya. Kalau saya lihat dibelakangnya seorang ibu muda hanya tersenyum saja. Kemudian tak lama bapak dan ibu muda tadi pergi.

Subhananallah.... di malam H-1 lebaran ini yang notabenenya orang ramai lagi sibuk dengan belanjaannya masing-masing dan biasanya rawan kejahatan karena lebaran memang banyak kebutuhan yang harus dikeluarkan. Tapi masih ada seseorang yang memiliki sifat yang mulia yaitu menjaga kejujuran dan kepedulian antar sesama. Walaupun helm saya ini kalau dijual tak seberapa harganya, namun bagi saya bukan soal besar kecilnya nilai kejujuran itu. Akan tetapi bagaimana menjaga sifat-sifat luhur manusia, salah satunya adalah sifat jujur dan peduli. Selama perjalanan pulang saya masih terngiang-ngiang dengan sifat luhur bapak itu. Dia mengajari saya bagaimana menjadi orang jujur dan peduli dengan kesusahan orang lain tanpa harus menghitung besar-kecil nilainya. 

Bisa saja ia tak jujur, sehingga helm saya yang ditaruh diatas jok motornya dia bawa dengan mudahnya. Atau peduli amat dengan helm saya, lalu dia taruh di sembarang tempat. Namun ia tidak demikian. Bapak tadi benar-benar ingin menjaga sifat jujurnya dengan tak beranjak dari motornya karena ada helm yang bukan miliknya berada diatas jok motornya serta tak ingin melihat orang lain yang bahkan tak ia kenal dalam kesusahan dengan menuggui helm miliki orang lain itu walaupun berlama-lama (sampai 20 menit)  sampai pemiliknya datang.

Saya agak sedikit menyesal karena belum sempat menanyakan namanya, barangkali suatu saat bertemu saya bisa memanggil namanya dan mengajak makan bersama, insya Allah jika ada rezeki. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih pak. Bapak bukan hanya menyelamatkan helm saya yang tak berharga namun juga mengajarkan bagaimana memiliki dan menjaga sifat-sifat yang mulia, sehingga bisa turut membantu kesusahan oran lain. Saya berdo’a kepada Allah semoga membalas kebaikan bapak dengan yang setimpal bahkan lebih baik. Aamiin

Alhamdulillah

Rabu, 22 Agustus 2012

Aji Ning Rogo Soko Busono lan Aji Ning Ati Soko Lathi


Bismillah
Ilmu tentang akhlak yang kita dapatkan dari contoh-contoh suri tauladan Nabi Muhammad SAW, terkadang bisa kita temui di berbagai pelajaran akhlak yang dibuat dalam pepatah atau peribahasa. Namun pada dasarnya teori apapun yang memberi pelajaran tentang akhlakul karimah itu adalah berasal dari Allah SWT. Seperti salah satu pepatah jawa mengatakan bahwa "Aji Ning Rogo Soko Busono lan Aji Ning Ati Soko Lathi"  yang kurang lebih artinya Kekuatan kebaikan Raga berasal dari cara berbusana dan kekuatan kebaikan hati berasal dari ucapan.
Secara umum manusia akan dihormati jika bisa berbusana yang baik, sopan, rapih. Dan secara khusus bagi umat beragama islam akan lebih dihormati dan dihargai jika berpakaian yang benar-benar islami dan rapih. Bukan hanya karena sebagai status saja. Sebagai contoh; Polisi dihormati karena seragam polisinya, seorang Ustadz dan Ustadzah akan di hormati karena cara berpakaiannnya yang islami dll. Karena Polisi, Ustadz dan Ustadzah adalah tokoh-tokoh masyarakat jadi wajar saja bila dihormati masyarakat. Namun ini bisa berlaku sama bagi rakyat biasa meskipun berstatus sebagai warga biasa saja seperti pedagang kaki lima, penjual jamu, tukang becak, ojek, tukang pos, tukang baso, Pak RT, Pak RW dll,  namun dalam kesehariannya bisa berusaha berpakaian yang baik, sopan dan rapih, maka orang-orang yang meilhatnya pun akan merasa nyaman dan bisa jadi segan. Kalau pendapat saya ini masih anda ragukan coba Anda lihat gambar ilustrasi dibawah ini ....




Bagaimana, sudahkah Anda menentukan pilihan sebagai jawaban dari pertanyaan “manakah cara bebusana yang enak di pandang?
Itu sebagai bukti “Aji ning rogo soko busono” memang benar adanya. Meski kita tidak bisa menilai seseorang dari segi fisiknya saja seperti Bu’le istrinya Pa’le bilang “Don’t Judge Only by The Cover”,  tapi dari sisi busana saja orang bisa memberi nilai plus tersendiri. 
Alangkah indahnya bila dipandang, karena suatu pandangan yang tak hanya sebatas dimata namun bisa sampai masuk menembus hati pada saat melihat seseorang yang bukan tokoh masyarakat bukan pula dari kalangan pejabat, dia hanyalah seorang rakyat biasa yang hidup dari kalangan orang-orang sederhana akan tetapi dari cara dia berbicara dan bertutur kata tak pernah sedikitpun ada celaan, cemoohan, kata-kata kasar dan kotor atau gunjingan yang muncul dari bibirnya, yang ada hanya kata-kata dan kalimat yang baik, sopan juga lemah lembut memperlihatkan ucapan yang keluar dari hati, juga ucapan-ucapan kejujuran yang kadangkala pahit dirasakannya. Itu semua berhubungan erat dengan sepenggal kalimat pepatah yang saya sebutkan sebelumnya “Aji Ning Diri Soko Lathi” yaitu kekuatan kebaikan hati ada pada ucapan yang baik dan selalu menjungjung tinggi kejujuran. 
Apabila dua rangkaian kalimat yang terdapat dalam satu pepatah ini bisa bersatu, maka para artis yang bisa jadi idola karena pintar dan mewah berbusana dan para pejabat yang dihormati karena punya kuasa yang keduanya kalah dengan sendirinya karena persaingan kehidupan glamor yang kompetitif dan dunia politik bakal terlupakan oleh seorang manusia sederhana yang senantiasa menjaga cara berpakaiannya yang baik, sopan, rapih, benar-benar islami meski tak mewah dan juga yang senantiasa mampu menjaga ucapan baiknya dan kejujurannya.
Itulah baiknya ilmu salah satu pepatah Jawa yang mengajarkan tentang Akhlakul Karimah (Budi Pekerti Yang Mulia). 
Alhamdulillah

Sabtu, 18 Agustus 2012

The Power Of Silaturahmi Part II

Pelajaran kedua, satu lagi cerita dari mas dimas yang tak kalah pentingnya dan masih menggetarkan jiwa saya yaitu pada malam itu dia berkata “Ki, kamu percaya tidak bahwa kekuatan ridho orang tua itu begitu besar pengaruhnya bagi kemajuan dan barokah kehidupan kita. Kamu masih ingat kan bahwa ridho Allah selalu bersama ridho orang tua. Mas dimas sekarang sungguh merasakanya” tutur mas Dimas yang wajahnya agak sedikit memantulkan cahaya karena sinar terangnya lampu ruang makan kami bermerk philip.
Saya dan istri begitu sangat terkesima menyimak cerita demi cerita mas dimas yang penuh hikmah itu. Dan dari dalam hati saya langsung berkata “Ucapan itu memang sudah saya ketahui dari dulu dan saya juga mempraktekannya, namun sepertinya apa yang diucapkan mas dimas itu sepertinya lebih berbobot karena lebih banyak berdasarkan pengalaman berat hidupnya daripada apa yang saya pahami“. 

Ternyata teori agama yang kita ketahui kalau hanya sekedar pemahaman konseptual atau teori agama dan praktek yang sesuai teorinya hanya 60% nya saja akan lebih menjadi hikmah yang hebat lagi jika kita kerjakan dengan sepenuh hati. Maksudnya adalah ilmu agama yang dipelajari dan difahami kemudian kita praktikan dengan setulus hati tanpa pertimbangan kekurangan materi, harga diri dan itu-ini akan lebih memberikan hikmah, manfaat besar yang bisa menambah kedewasan seseorang hamba Allah yang sholeh. Mas dimas lah yang telah mengalami hal itu.

Semenjak dia menjadi manusia yang taat dan takdhim kepada orang tua, kemajuan hidup ekonomi telah mengalami perubahan yang signifikan. Sejak 3 bulan yang lalu dia telah mendapat pekerjaan di satu sekolah SD tempat istrinya bekerja sebagai Guru Wiyata (Guru Honorer). Meskipun sebagai wiyata yang hanya bergaji satu bulan Rp 300.000,- namun karena mas dimas aktif dalam berkerja tanpa pamrih, sehingga tak jarang dia dapat rizki yang tak terduga-duga. Dia juga termasuk orang yang serba bisa, dari menjadi operator komputer, mengajar bahasa inggris dikala guru aslinya tak ada, sampai penggagas ide hampir disetiap urusan operasional dan guru-guru di SD tersebut. Pernah ada yang mengatakan “Mas dimas ini sudah orangnya gaul, pinter lagi. Poko’e serba bisa lah. Cocoknya jadi kepala sekolah saja” komentar salah satu guru sambil tersipu malu. Dan mas dimas juga punya kesempatan menjadi PNS jika sudah berwiyata minimal 5 tahun. Serta sejumlah rencana brilian yang menguntungkan sudah ada di tangan  setelah dia bekerja sebagai wiyata di SD itu. Itulah pertolongan-pertolongan yang datang menghampiri mas dimas atas keihklasannya di dalam ketaatan dan takhdimnya kepada orang tua.

Sebaliknya, cerita kesedihan dan segala problematika akan selalu mewarnai kehidupan anak manusia yang membuat hati orang tua tak ridho. Karena pada saat orang tua kita tak ridho dengan apa yang kita lakukan, yang kita rencanakan itu sebenarnya membuat hati mereka sakit atau tersinggung. Padahal sudah banyak pelajaran dalam Al-Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW menjelaskan tentang kewajiban sebagai anak terhadap orang tua, diantaranya;
  • Firman Allah Ta’alla; “Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya” (Al-Ankabut ; 8) 
  • Firman Allah Ta’alla; “Dan Robbmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil” (Al-Isro ; 23-24)
  • Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Ridho Robb (Allah) ada pada ridho orangtua dan murka Robb (Allah) ada pada murka orangtua” (HR Tirmidzi)
Melawan orang tua, menentang orang tua, membuat sakit orang tua dan membuat hati orang tua tak ridho dengan terang-terangan maupun samar-samar adalah kesalahan besar selama hayat masih dikandung badan Anda. Dan terkadang perbuatan dan rencana yang tak sadar atau tak sengaja kita kerjakan bisa membuat hati orang tua tidak ridho. Seperti kejadian yang dialami mas Dimas ini. Ceritanya, pada saat dia punya kesempatan mendapatkan rumah kontrakan yang tak jauh dari Sekolah tempat istrinya bekerja. Dan bahkan rumah yang bakal dia tempati itu tidak dipungut uang sewa kontrak, hanya tinggal menempati dan tentu saja dengan syarat mau merawatnya, karena si empunya tinggal diluar kota. Maka, kesempatan ini pun tak mau dilewatkan, setelah beberapa kali bermusyawarah dengan keluarganya termasuk mertuanya dimintai ijin dan pendapat. Akhirnya rencana itu berjalan dengan lancar karena sudah sepakat dan mendapat ijin bersyarat dari mertua. Syaratnya adalah setiap seminggu sekali menjenguk mertua. Nah, setelah beberapa minggu tinggal dirumah kontrakan yang luasnya lumayan cukup bagi sebesar keluarga mas dimas. Ada masalah yang mengganjal, yaitu rumah dan anak-anaknya mas dim tak ada yang merawat karena baik mas dim dan istrinya sama-sama bekerja di SD. Padahal selama tinggal bersama mertua tak ada masalah sama sekali untuk merawat anak-anaknya karena ada tetangga yang mau bekerja sebagai babysitter (pegawai rumahan yang mengurusi anak-anak dan kebersihan rumah tangga), tapi semenjak tinggal di rumah kontrakan yang baru itu sulit sekali untuk mencari tenaga babysitter, sehingga perawatan anak-anak dan urusan kebersihan rumah terlantar. Setelah diusut-usut ternyata mas Dimas baru menyadari kalau mertuanya memberi ijin masih setengah hati. Secara kebetulan pula pemilik rumah seperti merasa keberatan dengan mas dim, karena rumah miliknya tak terurus. Setelah kejadian ini mas dim pun kembali bersama ke rumah mertua. Dan alhamdulillah segalanya kembali normal dan lebih lancar.

Kejadian-kejadian yang lain pun di ceritakan oleh mas dim, permasalahan keluarga yang datang perlahan maupun bertubi-tubi yang menyelimuti perjalanan hidup berkeluarga. Diantaranya gagal berkali-kali dipromosikan bekerja di luar negeri, susah mencari pekerjaan selama bertahun-tahun, pekerjaan yang tak pernah cocok di hati dan tak sesuai gaji dan beberapa cerita kegagalan dalam meraih kebahagiaan berumah tangga diceritakan oleh mas dim. 

Semua kejadian kegagalan itu bermuara kepada satu hal yaitu karena tak sadarkan diri dan tak mau berintropeksi atas kesalahan yang telah kita perbuat sehingga menjadikan orang tua tak ridho. Atau kita tak ridho kepada orang tua karena suatu hal yang membuat kita jengkel atas tingkah-lakunya yang tak kita ketahui apa yang sebenarnya terjadi.

Malam pun semakin larut. Tangan kananku menutup mulut yang berusaha untuk menguap-uap karena sudah mulai mengantuk. Kulihat mata istriku juga perlahan-lahan mulai meredup karena tak biasanya kita mengobrol sampai selarut ini. Namun mas dimas masih kelihatan segar padahal telah mengalami perjalanan yang panjang dari magelang – jogja – jakarta – sukabumi dan nanti akan kembali ke jakarta menjalankan misi sesungguhnya. Sehingga kita akhiri obrolan pada malam itu untuk istirahat karena bseok pagi saya harus berangkat kerja.

Misi mas dimas ke Jakarta adalah menemui ayah kami di Jakarta untuk melaksanakan musyawarah besar keluarga kita yang diwakili oleh mereka bertiga Mas Dimas, Reza Satri Kinayungan (adik saya) yang tinggal dan bekerja di WWF Unicef perwakilan Jakarta serta ayah kami Pak Naryo. Musyawarah nanti akan membahas tentang 2 hal, yaitu acara Silaturahmi saat lebaran nanti dan Dana bantuan segera berupa modal dari kita-kita untuk usaha bapak yang sedang digarap.

Kekuatan manfaat dari bersilahturahmi (The Power Of Silaturahmi) begitu besar bagi saya. Bisa belajar banyak dari setiap kejadian-kejadian kehidupan orang-orang terdekat yang bisa memberi hikmah. Waktu yang tepat untuk saling berbagi dan saling nasihat-menasihati. Oleh sebab itu kita selalu menjaga kesinambungan Silaturahmi antar keluarga dimana saja dan kapan saja. Terlebih di momen penting nanti seperti Hari Raya Idul Fitri. Momen ini kita gunakan dengan sebaik-baiknya untuk temu kangen dan temu sapa diantara keluarga yang sudah berpencar-pencar ke berbagai daerah di Indonesia. 


Bagi sahabat pembaca semua yang sedang melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman alias Mudik. Semoga dalam perjalanan diberikan keamanan dan kelancaran sehingga bisa sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Dan semoga bisa memanfaatkan momen penting itu untuk bersilahturahmi dengan sanak-saudara, keluarga, kerabat serta para tetangga yang sudah tak sabar menunggu kedatangan Anda.

Dan pada malam hari ini saat yang tepat bagi saya untuk mengucapkan sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam Indonesia di seluruh penjuru Nusantara dan belahan dunia, yaitu malam minggu tanggal 18 Agustus sebagai malam Idul Fitri 1 Syawal 1433 Hijriah; saya Pekik Aulia Rochman dan Keluarga ingin mengucapakan;

Selamat Hari Raya Idul Fitri tahun 1433 Hijriah
تقبل الله منا ومنكم 
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Semoga amal ibadah kita selama bulan Suci Ramadhan bisa diterima di sisiNya


Kamis, 16 Agustus 2012

Coretan Kecil Tak Berharga Untukmu Indonesiaku


Bismillah

Wahai indonesiaku
Hari ini adalah waktu yang sangat berharga dan paling kau tunggu-tunggu
Dan hari ini adalah waktu paling berkualitas yang pernah kau rasakan selama 365 hari berlalu

Yaitu hari ulang tahun kemerdekaanmu
Dirgahayu yang telah kau rasakan semenjak 67 tahun yang lalu

Diriku bersimpuh meminta maaf atas kelalaian dan kekhilafanku
Yang telah membuat engkau berharga hanya 24 jam saja
Diriku merunduk sedih merenungi apa yang telah kuberikan padamu
Memberi sesuatu yang bisa membuatmu merasakan penghargaan sepanjang waktu
bukan 1 hari saja

Wahai indnesiaku
Jasa-jasamu banyak sekali
Tak terhitung dengan jari
Setiap hari
Setiap jam yang berjalan sendiri
Setiap menit yang mengalahkan waktu 1 jam dengan berlari
Setiap detik-detik nafasku ini

Sebagai perantara Allah pemberi nikmatnya merasakan hidup dan tumbuh
Jauh dari suara-suara teriakan “merdeka atau mati” para pahlawan
Jauh dari tatapan darah-darah yang bercucuran para pejuang 45 hanya demi kemerdekaan
Sebagai perantara Allah pemberi nikmatnya merasakan hidup dan tumbuh
Jauh dari ratapan suara tangis seorang bocah yang kehilangan
Kehilangan Bapak-Ibunya karena penjajahan yang kejam
Hanya demi menjaga sucinya kemerdekaan yang pasti kan datang

Kusimpuhkan diriku lagi
Dan mengajak seluruh manusia dimana merah darah indonesiamumengalir tanpa henti
Agar sadar apa pantas aku dan mereka mengahargai kau hanya sehari
Agar lebih menjiwai apa layak aku dan mereka menghormatimu sebatas ceremoni

Ku kan bangkit
Dan mengajak mereka bangkit dari jiwa-jiwa yang sakit
Agar kau bisa merasa kebanggaan yang tak sedikit
Pada perubahan ku dan mereka yang baik sampai ke langit

Yang akhirnya bisa memiliki cita-cita luhur
Yaitu cita-citamu wahai Indonesiaku
Memajukan kesejahteraan umum
Mencerdaskan kehidupan bangsa
Dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Itu semua karena perintah Allah yang maha Benar
Agar senantiasa Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Supaya kau bisa tersenyum setiap hari
Karena para pejuang mu hadir kembali
Di sendi-sendi perjuangan di masakini
Karena masa yang telah berevolusi 

Semoga Allah memberikan coretan kecilku ini perubahan positif padaku. Aamiin

Rabu, 15 Agustus 2012

The Power of Silaturahmi Part I

Bismillah
  • Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisaa’:1) 
  • Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Barang siapa yang suka diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia melakukan silaturahmi.” (HR Muslim)
  • Rasulullah saw. bersabda yang artinya, 'Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan ikatan rahim.” (HR Bukhori Muslim)


Kemarin saya baru saja mendapat pengertian anyar tentang penjelasan kata Transkrip yang kudapatkan dari internet. Yang selama ini kata itu kutahu hanya dipakai pada penilaian di Ijazah, rapot sekolah yang biasanya disebut sebagai ”Transkrip Nilai”. Ternyata artinya tidak hanya sebatas memberi penilaian namun menurut pengertian yang saya baca bahwa mentranskrip adalah mengambil bahasan lisan ke dalam bentuk tulisan.
Nah, karena sudah dapat ilmu baru, saya akan mencoba untuk mentraskrip sesuatu yang telah kudapatkan saat kedatangan seseorang ke rumah. Dan sejak kedatangan itu, ada manfaat yang memancar dalam jiwa yang belum pernah saya rasakan setelah 1 tahun lamanya tak bertatap muka karena jarak yang memisahkan kita. Tidak begitu jauh sih, dan juga tak sampai menyeberang lautan hanya antar provinsi saja, antara Sukabumi dan Magelang.
Sebenarnya Mas Dim (nama panggilan akrab kepada kakak kandung saya yang memiliki nama lengkap Dimas) bermaksud untuk pergi ke Jakarta sambil membawa misi. Dan misinya adalah untuk menemui ayah kami. Namun karena antara Jakarta dan Sukabumi yang jarak tempuh tidak begitu jauh hanya dipisahkan oleh kota Depok dan Bogor, akhirnya dia memutuskan untuk bersilaturahmi ke gubuk saya. Sekaligus dia ingin menjenguk putra kedua saya Azkari Zavair Ramadhan yang lahir pada tanggal 27 juli lalu.
Pada hari Senin, malam hari sekitar pukul 18.30 WIB setibanya di terminal Sukabumi, saya langsung menjemputnya. Setelah tiba di rumah saya, mas dim langsung memberikan oleh-oleh berupa beberapa bungkus sedang gulai kambing dan 1 bungkus rendang serta satu wadah kue lebaran yang berisi coklat-coklat terbungkus sembari berkata “Ini ki, mas dimas nggak bisa bawa apa-apa” ujar mas dimas dengan rendah hatinya yang memiliki seorang istri dan dikaruniai 5 orang anak namun tinggal 4  karena 1 meninggal dunia ketika masih balita.
Kami pun mulai ngobrol-ngobrol selepas mengerjakan sholat Isya dan sholat tarawih berjamaah di rumah. Kami begitu asyik ngobrol samapai akhirnya menarik perhatian istri saya yang baru sembuh dari masa persalinan cesar tanggal 27 juli lalu juga nimbrung obrolan kami. Mas dim banyak bercerita tentang kehidupan sehari-harinya.
Pada saat kami ngobrol ada yang berbeda dari pancaran wajah mas dim, setelah sekian lama kami tidak ngobrol-ngobrol semenarik ini. Saya merasakan wajahnnya begitu tenang, damai seolah-olah hidup ini tanpa beban, waktu itu. Setiap kali dia berbicara tentang cerita kehidupannya tiba-tiba jiwa saya bergetar merasakan kagumnya kepada kakak saya yang satu ini. 
Memang mas dim tergolong orang yang ulet, rajin, sabar, suka menolong orang, telaten, suka menjaga kebersihan terutama kebersihan diri sampai-sampai dia dikatakan adik saya oleh orang-orang yang belum tahu setiap bertemu kami berdua, baby face kali yah, namun kalau masalah ketampanan saya tidak kalah (muji diri biar kagak minder..hehe). Ini terbutki, adik-adik saya Sakti Maulana Al-Kautar, Prima Nurani Fauziah, Imania Puspatama, Reza Satria Kinayungan yang kuliah di UGM Yogyakarta di urusi dari mulai pendaftaran sampai masuk kuliah, mencari tempat buat kost-kostan dan segala kebutuhan yang mereka butuhkan sampai selesai kuliah pun betul-betul dibantu. Kebetulan waktu itu, mas dimas pernah bekerja dan juga pernah kuliah di UGM D3 Sistem Informasi di kota itu, jadi tahu betul kawasan belajar Yogyakarta. Dan masih banyak lagi riwayat hidup baiknya yang tidak sempat saya tulis disini.
Inti pelajaran hidup yang paling berharga dari obrolan yang kami lakukan sampai larut malam diantarnya;
Pelajaran Pertama, dia cerita bahwa pentingnya untuk memiliki tekad yang kuat untuk berbuat baik. “Ingat yah ki, kalau kamu punya niat baik, ditoto (bahasa jawa, indonesianya “ditata”), kemudian kamu jaga betul niat itu. Jangan sampai berubah walau apapun godaannya” sahut mas Dimas yang telah bertahun-tahun mendaftar mencari peruntungan menjadi PNS selama bertahun-tahun setelah selesai kuliah tahun 2007 namun tak tercapai jua. Memang tidak salah apa yang dikatakannya. Bukti yang paling kuat adalah di depan mata saya sendiri. Mas dimas tinggal bersama mertuanya selama kurun waktu 7 tahun lebih tak pernah pindah, meski jika dia ingin pindah pun sangat mampu karena memang istrinya Arifah Nurhayati Alhamdulillah sudah Pegawai Negeri Sipil dan bekerja jadi guru Olah Raga di salah satu SD desa di kota Magelang sejak 7 tahun lalu.
Tinggal bersama mertua selama bertahun-tahun dalam satu rumah lumayan besar yang hanya dipisahkan oleh kamar-kamar bukanlah perkara yang mudah. Seperti kakak saya yang satu lagi Mas Bayu Mahardika Rizal yang juga tinggal di Yogyakarta dan lebih dulu membantu, mengurusi adik-adiknya kuliah di Yogyakarta termasuk mas Dimas sendiri dibantu olehnya pernah tinggal dengan mertua, katanya tidak sampai 1 minggu sudah tidak betah.
Begitupun saya, pernah tinggal bersama mertua setelah menikah di Way Kanan Lampung Utara selama 2 minggu kemudian memboyong istri pulang ke kampung saya. Padahal kebun karet seluas 1 hektar kurang sedikit sudah disiapkan, tinggal saya mau apa tidak untuk deres pohon karet itu (deres; menguliti kulit pohon karet dengan pisau deres untuk diambil getahnya). Pernah saya mencoba beberapa hari belajar untuk deres karet, hasilnya lumayan sih (lumayan hancur, getahnya tak mengalir sesuai jalur yang saya buat). Semakin saya belajar semakin hancur pula pohon jadinya. Masalahnya pohon karet yang dikuliti tidak sesuai SOP (standard operational procedure) jadi bukannya memberi getah yang maksimal justru malah menambah derita si pohon karet itu karena rusak dan lama-kelamaan akan mati. Kasihan sekali tuh pohon-pohon yang saya kuliti.
Alasan kepindahan saya bukan karena tak becus menjadi petani karet, namun karena saya punya pekerjaan di kampung saya Cirebon dan saya memiliki cita-cita akan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi menjadi orang yang berguna bagi keluarga, kerabat, masyarakat, nusa dan bangsa Indonesia insya Allah. Aamiin.
Jika saya benar tinggal bersama mertua mungkin insya Allah tidak akan mampu tinggal berlama-lama bersama mertua selama bertahun-tahun dengan berbagai macam problematika keluarga yang dicampurtangani orang tua.
Tapi bagi mas dimas tidak ada kata menyerah, pusing atau tak betah untuk tinggal bersama mertua. Bayangkan! Selama 7 tahun lebih dengan segala permasalahan pribadi keluarga yang senantiasa di ketahui orang tua, sampai mas dimas memiliki 5 orang anak, namun mas dimas tetap sabar. Ini hasil tekad kuat mas dimas yang tak pernah goyah dengan godaan semanis apapun agar mendapatkan barokahnya merawat orang tua. Dan Alhamdulillah segala kebutuhan dirinya, istri dan 4 orang anak-anaknya mas dimas terpenuhi bahkan bisa turut membantu mertuanya jika ada rizki lebih, walaupun mas dimas masih mencari pekerjaan kesana-kemari membawa-bawa ijazah D3-nya tetap saja belum punya pekerjaan yang menetap dan mapan gajinya, waktu itu.
Bersambung.......

Senin, 13 Agustus 2012

Anugrah Allah Ada Pada Hukum Alam








Bismillah
Di alam semesta ini termasuk di dalamnya planet bumi yang dikenal sebagai dunia yang kita pijak memiliki bermacam-macm hukum alam. Dan segala hukum alam yang berlaku ini merupakan bagian dari beberapa  hukum Allah SWT atau kehendakNya.
Termasuk salah satu hukum alam yang menjelaskan bahwa di dunia ini berlaku hukum berlawanan. Istilah yang lebih populer adalah hukum polaritas. Maksud dari hukum alam berlawanan adalah segala hal yang ada di bumi ini memiliki pasangan lawan mainnya. Seperti yang kita ketahui diantaranya seperti; dalam warna ada hitam ada putih, dalam hari ada siang ada malam, dalam paras wajah ada cantik rupa ada buruk rupa, dalam penilaian ada baik ada buruk, dalam suatu cita-cita ada kegagalan ada keberhasilan, dalam pemberian sesuatu ada yang ditolak dan ada yang diterima, dalam emosi jiwa ada cinta dan ada benci dll.
Hubungan yang berlawanan yang memainkan perannya masing-masing itu jika kita lihat sekilas diantara keduanya adalah musuh yang yang tak pernah bisa berdampingan untuk melangkah bersama. Namun jika kita pelajari lebih dalam ternyata kedua jenis yang antagonis ini merupakan satu-kesatuan, walau diantara keduanya memilki perbedaan yang mencolok.
Sahabat pembaca yang budiman, Apakah anda masih bingung dengan apa yang saya jelaskan di atas? Oke, agar lebih mudah dicerna, saya akan coba memberi beberapa pertanyaan.
·         Apakah anda suka dibenci atau dicintai?
·         Apakah anda suka kesenangan atau kesusahan?
·         Apakah anda suka diterima cintanya atau ditolak cintanya?
·         Apakah anda suka dengan keberhasilan atau kegagalan?
Dan dari 4 contoh pertanyaan tersebut, saya yakin anda akan memilih jawaban yang lebih memnguntungkan yaitu dicintai daripada dibenci, kesenangan dari pada kesusahan, diterima cintanya dari pada ditolak cintanya dan anda pasti lebih suka keberhasilan daripada kegagalan. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya manusia itu lebih suka dengan hal yang menyenangkan ketimbang kepedihan. Itu adalah hal yang mansuawi yang bersifat alami.
Coba dilihat kembali 4 pertanyaan diatas. Apakah ada yang bisa diambil faedahnya selain hanya sekedar memilih?. Coba kalau saya hilangkan pilhan yang tidak anda pilih, saya ambil contoh dua saja. Pertama antara cinta dan benci, kedua antara kesenangan dan kesusahan. Apakah ada sesuatu yang bisa memberikan makna dari percobaan nanti.
Pilihan pertama saya akan saya coba hilangkan bencinya, sehingga yang ada hanya cinta. Berarti semua orang-orang yang yang memiliki rasa cinta akan langsung menjadi pasangan. Konsekuensi dari tak ada benci berarti di dunia ini tidak ada permusuhan dan yang ada hanya kedamaian karena semua yang mencintai menjadi akan pasangan hidup, pasangan persahabatan, baik antar individu, kelompok atau bahkan antar negara. Sehingga sekarang tidak ada cerita perselingkuhan, tidak ada cerita saling menjatuhkan antar golongan, dan tidak akan ada cerita tentang peperangan, perebutan kekuasaan atau satu negara dengan negara lainnya saling menjajah, sebab tak ada kebencian didunia ini. Namun, kita lihat pada kenyataannya, apakah kita benar-benar tidak melihat tidak ada perselingkuhan, tiadanya saling menjatuhkan antar golongan, peperangan, penjajahan? Kepastian jawabannya adalah “Tidak”, justru sebaliknya dunia ini penuh dengan perselingkuhan, jatuh sana jatuh sini dan peperangan yang terus melanda di beberapa negara dunia. Nah, ini menandakan bahwa kebencian itu juga ada. Dan jika anda bisa merasakan namanya rasa cinta, itu karena rasa benci ada.
Begitu pula jika saya ambil pilihan yang kedua, akan saya coba hilangkan kata kesusahan. Bila dunia ini tak ada orang susah. Oh.... niscaya yang disebut-sebut dengan surga dunia mungkin ada karena semua orang merasakan senang. Tak ada kemiskinan, tak ada kelaparan, maupun orang keberatan hutang dan tindakan kriminalitas hampir tak pernah dijumpai sebab kesejahteraan benar-benar terjamin, dll. Tapi tunggu dulu sejenak, apakah sekarang dunia ini tak ada yang namanya kemiskinan, kelaparan, keberatan hutang atau tindakan kriminalitas? Hanya ada dalam mimpi!. Hampir tak bisa ditemui. Dan hal ini juga menandakan bahwa jika anda bisa merasakan kesenangan itu artinya anda juga bisa merasakan kesusahan.
Dari contoh-contoh diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, segala sesuatu yang berlawanan itu pada dasarnya merupakan satu-kesatuan. Seperti layaknya koin yang memilki dua belah sisi yang saling berseberangan. Namun koin yang memiliki dua mata sisi itulah yang memiliki nilai jual. Kalau ada koin yang hanya memiliki satu sisi mata uang saja, mana mungkin bisa sampai ke warung-warung, toko-toko, para penjual sebagai uang yang memiliki nilai tukar.
Jadi memang tak terbantahkan bahwa pepatah mengatakan “kegagalan adalah awal dari kesuksesan”. Pada saat kita berada pada masa kegagagalan yakinlah bahwa sebentar lagi  keberhasilan itu akan datang.  Tidak ada cerita kegagalan yang abadi dan begitu pula keberhasilan, keduanya saling silih berganti. Tak ada pengusaha yang berhasil terus atau untung terus. Juga, tak ada pengusaha yang gagal terus atau rugi terus. Suatu saat kegagalan dan keberhasilan, keuntungan dan kerugian akan di alami seiring berjalannya waktu.
Susah atau senang, untung atau rugi dan berhasil atau gagal adalah suatu hal yang wajar yang akan selalu memberi warna di setiap sudut-sudut kehidupan manusia.
Yang terpenting adalah dikala mengalami kesusahan, kerugian, kegagalan berusaha untuk mensikapinya dengan sabar, pantang menyerah, tidak putus asa. Karena hukum alam akan senantiasa berbicara bahwa kesusahan, kerugian dan kegagalan adalah merupakan bagian dari keberhasilan.
Agar semakin yakin dan optimis bahwa di balik kesusahan pasti ada kemudahan, dibalik kegagalan pasti ada keberhasilan, akan saya cuplik ayat-ayat Allah dalam dalam Al-Qur’an di surat Alam Nashroh nomor surat 94 ayat 5 dan 6 berikut dibawah ini;
فَإِنَّ مَعَ الْعُسرِيُسْرًا (۵) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِيُسْرًا (٦)
Artinya; 5. “ Maka sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan”
              6. “ Sessungguhanya, bersama kesulitan ada kemudahan”

Dalam cuplikan ayat-ayat diatas firman Allah menerangkan bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan. Dan bahkan Allah sampai berfirman dua kali dengan kalimat yang sama, ini berarti kalimat ini betul-betul sebagai penekanan dan penegasan sekali lagi bahwa kemudahan yang diperoleh tidaklah lepas dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi.
Sahabat pembaca yang budiman, jika kita ingin keberhasilan. Maka! Berusahalah, berdo’alah, semangat terus pantang menyerah dan yakinlah bahwa saudara sudah mendekati pada detik-detik kesuksesan dan keberhasilan yang barokah.
Semoga Allah memperkaya hidup kita dengan penuh hikmah. Aamiin
Alhamdulillah.